Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin pada Rapat Koordinasi Penguatan Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Hilirisasi Kemitraan.
JAKARTA.BM- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin menegaskan bahwa publikasi ilmiah dan penelitian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara, bukan sekadar mengejar pengakuan akademik atau indeksasi internasional.
Hal tersebut disampaikan Kamaruddin Amin dalam Rapat Koordinasi Penguatan Program Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmiah, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Hilirisasi Kemitraan yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Rabu (3/6/2026) di Jakarta.
Menurut Kamaruddin, penelitian yang didanai negara harus mampu menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat dan berkontribusi dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Karena itu, para peneliti dan pengelola jurnal di PTKI perlu memiliki visi yang sama bahwa penelitian harus menghasilkan manfaat yang terukur dan berdampak luas.
“Penelitian harus benar-benar impactful, responsif terhadap realitas dan kebutuhan masyarakat. Jangan sampai penelitian hanya menjadi kajian akademik yang tidak memiliki kebaruan dan tidak memberikan kontribusi nyata,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai program prioritas pemerintah yang dapat menjadi objek penelitian strategis, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), upaya penurunan angka stunting, hingga berbagai kebijakan yang mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, hasil penelitian yang berbasis data dan bukti empiris akan memberikan kontribusi penting dalam penyusunan kebijakan publik.
Kamaruddin juga mengingatkan urgensi aspek novelty atau kebaruan dalam setiap karya ilmiah yang diterbitkan. Selain memenuhi standar metodologis dan teknis, sebuah artikel ilmiah harus mampu menawarkan perspektif baru serta solusi terhadap berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
“Dalam menilai sebuah tulisan jurnal, yang harus menjadi pertimbangan utama adalah apa yang baru dan apa dampaknya. Tidak cukup hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga harus memiliki substansi yang kuat dan relevan,” tegasnya.
Terkait capaian jurnal PTKI yang terus meningkat, Kamaruddin menyampaikan apresiasi atas keberhasilan puluhan jurnal yang telah terindeks Scopus. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa indeksasi internasional bukanlah tujuan akhir dari pengembangan jurnal ilmiah.
“Saya bangga jurnal-jurnal kita mendapat pengakuan internasional. Tetapi yang lebih penting adalah apakah tulisan-tulisan itu dibaca, dikutip, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Kita tidak boleh berhenti pada pengakuan formal semata,” katanya.
Kamaruddin berharap para pengelola jurnal dan peneliti di lingkungan PTKI terus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dengan memperhatikan relevansi, kebaruan, serta kontribusinya terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa. Dengan demikian, jurnal ilmiah tidak hanya menjadi sarana diseminasi pengetahuan, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial dan pembangunan nasional.
Sebelumnya, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Nur Khafid, melaporkan bahwa saat ini terdapat 53 jurnal PTKI yang telah terindeks Scopus, dengan 41 jurnal di antaranya berada pada peringkat Quartile 1 (Q1). Selain itu, sebanyak 1.726 jurnal PTKI telah terakreditasi SINTA dengan berbagai peringkat.
Rapat koordinasi ini menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi mengenai penguatan tata kelola jurnal ilmiah, peningkatan mutu publikasi, serta pengembangan ekosistem penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak bagi kemajuan pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
#Gan | Kemenag








No comments:
Post a Comment