Jawaban atas pertanyaan di atas, bisa kita baca dalam ensiklik pertama Paus Leo XIV yaitu Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung), di mana Paus Leo menekankan pentingnya mempertahankan nilai moral, kemanusiaan, dan martabat seiring pesatnya kemajuan teknologi. Inilah tantangan yang begitu dekat dialami oleh negara kita. Moralitas, kemanusiaan, dan penghormatan martabat manusia menjadi hal yang begitu menantang di tengah kondisi politik dan ekonomi kita saat ini. Kita sebagai warga Gereja sekaligus warga negara Indonesia, pesan ini mengundang kita untuk memiliki keberanian moral.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Bangsa kita sedang melangkah bersama di bawah komitmen Asta Cita Presiden, yaitu delapan misi besar menuju Indonesia Emas. Sebagai umat Katolik, kita tidak boleh pasif. Iman kita justru harus menjadi bahan bakar untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut. Negara berkomitmen untuk "Memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi..." Dalam tantangan itu, Yesus menyadarkan kita bahwa, "tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui"(Mat 10:26).
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk "tidak takut" bersikap jujur, meskipun di lingkungan kerja kita ditekan untuk ikut dalam arus yang tidak benar. Sebagai pengikut Yesus kita harus berani berkata "tidak" pada korupsi. Kita dipanggil menjadi agen transparansi, karena kita tahu bahwa pada akhirnya, Allah melihat segala yang tersembunyi. Yesus menggambarkan betapa berharganya burung pipit di mata Allah, apalagi manusia. Setiap manusia, sangat berharga bagi Tuhan. Misi pemerintah untuk membangun dari desa dan memberantas kemiskinan adalah bentuk nyata dari penghargaan terhadap martabat manusia. Mengakui Kristus berarti kita peduli pada sesama yang miskin, mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu, dan tidak mengeksploitasi sesama demi keuntungan pribadi.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Ketika Yesus mengutus para murid-Nya, Ia tahu mereka akan menjadi minoritas di tengah tantangan zaman. Namun, Yesus meminta mereka tetap membawa damai dan kebenaran terang-terangan (Mat 10:27). Di Indonesia yang majemuk ini, kita tidak perlu takut menampilkan identitas Katolik kita, bukan untuk bersikap eksklusif, melainkan untuk menjadi garam dan terang. Kita mengakui Yesus dengan cara menjadi jembatan perdamaian, menghargai perbedaan, dan aktif merajut kerukunan antarumat beragama di lingkungan tempat kita tinggal.
Menjadi Katolik yang 100% Katolik dan 100% Indonesia, begitulah ungkapan Mgr. Albertus Soegijapranata, yang berarti iman kita harus berdampak pada kemajuan bangsa. Ketika kita berani mengambil peran dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bersih, pada saat itulah kita sedang menggenapi sabda Kristus: menjadi saksi-Nya yang hidup di tengah dunia. Seperti halnya para murid, bacaan Injil hari ini sungguh menguatkan bahwa kita menjadi berani karena berharga di hadapan Allah. Semoga Tuhan memberikan roh keberanian dalam menghargai nilai moral, martabat, dan kemanusiaan sebagaimana digaungkan oleh Paus Leo XIV dalam semangat perutusan sabda Tuhan hari ini.
Antonius Sinaga (Pembimbing Masyarakat Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta)








No comments:
Post a Comment