Merasa Baik Kok Belum Berbuat Baik - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19"
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Wednesday, February 24, 2021

Merasa Baik Kok Belum Berbuat Baik


Akatam dukkatan seyyo, paccha tappati dukkatam. Katan ca sukatam seyyo, yam katva nanutappati. Sebaiknya seseorang tidak melakukan perbuatan jahat, karena di kemudian hari perbuatan itu akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik seseorang melakukan perbuatan baik, karena setelah melakukannya ia tidak akan menyesal. (Dhammapada, Syair 314)

Para pendiri agama memiliki misi yang sangat mulia dalam membangun dan menata kehidupan manusia. Misi utamanya adalah menebar benih-benih kebaikan bagi para umatnya sehingga mereka dapat meneladani setiap kebaikan yang dilakukan oleh para pendiri agama. Meskipun semua pendiri agama menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik, akan tetapi hal tersebut belum sepenuhnya mengurangi angka kejahatan di muka bumi ini.

Setiap orang sejatinya memiliki benih-benih kebaikan. Bahkan orang sejahat apapun, mereka pasti pernah melakukan perbuatan baik selama masa hidupnya. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindak kejahatan. Masalah ekonomi, latar belakang sosial, masalah keluarga, tingkat pendidikan adalah beberapa faktor yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindak kejahatan.

Dalam agama Buddha, terdapat kisah tokoh yang terkenal memiliki sifat yang sangat bengis dan jahat yang dikenal dengan nama Angulimala. Awalnya Angulimala adalah anak yang sangat cerdas dan patuh kepada gurunya. Akan tetapi, karena hasutan dari teman-temannya yang iri kepada Angulimala, akhirnya gurunya melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan. Guru Angulimala memberikan misi yang sangat jahat dan berbahaya bagi kehidupan manusia yaitu dengan mengumpulkan 1.000 jari manusia sebagai syarat untuk menuntaskan pendidikan.

Dengan tugas tersebut, karakter Angulimala berubah menjadi perampok yang sangat keji, pembunuh yang sangat kejam, dan menyebabkan banyak orang mengungsi karena ketakutan. Bahkan ibunya sendiri nyaris menjadi salah satu korban pembunuhan untuk melengkapi 1.000 jari yang Angulimala kumpulkan. Akan tetapi atas nasihat dari Buddha, akhirnya Angulimala tersadarkan dan dapat mencapai kesucian. Dari kisah tersebut, tergambar jelas bahwa sejahat apapun manusia, selalu ada benih-benih kebaikan yang dimiliki.

Perbuatan baik merupakan hal mendasar dalam menyokong kehidupan yang lebih baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Apapun yang terjadi pada diri kita pada saat ini bergantung pada perbuatan pada masa lalu, begitu pula baik buruknya kehidupan pada masa yang akan datang bergantung perbuatan kita pada masa sekarang.

Sebagai analoginya, “Jika kamu ingin tahu kehidupan masa lalumu maka lihatlah kondisi kehidupan sekarang, dan jika kamu ingin tahu kehidupanmu yang akan datang maka lihatlah apa yang kamu lakukan pada masa sekarang ini". Dari analogi di atas tentu akan memotivasi diri kita untuk senantiasa berbuat baik.

Terkadang kita berpikir bahwa di kehidupan ini kita sudah cukup baik dan merasa diri kita baik. Karena merasa kita baik, maka kita lupa bahwa saat ini kita sedang memetik dan menikmati buah kebaikan yang kita lakukan di masa lampau. Memetik dan menikmati tanpa menanam kembali tentunya akan sangat merugikan diri kita sendiri.

Bersikap pasif terhadap kebaikan dan tidak melakukan kejahatan memang baik. Akan tetapi hal tersebut tidak akan meningkatkan kemajuan batin. Ovada Patimokkha menjelaskan secara gamblang terkait anjuran Sang Buddha kepada para muridnya untuk terus melakukan perbuatan baik. Hal ini disampaikan Sang Buddha di Veluvana kepada 1.250 orang Bhikkhu yang ditahbiskan sendiri oleh sang Buddha dan semuanya telah mencapai tingkat kesucian.

Dalam perkumpulan tersebut mereka datang tanpa diundang dan tanpa mengadakan kesepakatan untuk berkumpul. Pada kesempatan pertemuan tersebut, Sang Buddha mengajarkan syair: “Tidak melakukan kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin, inilah Ajaran Para Buddha”.

Marilah kita senantiasa melakukan intropeksi diri dan terus menanam kebajikan, walaupun kecil. Jangan selalu merasa diri kita baik, jika kita belum melakukan perbuatan bai. Karena nilai seorang manusia diukur dari seberapa banyak seseorang telah melakukan kebaikan.

Selamat Hari Raya Magha Puja 2564 Buddhist Era. Semoga kita senantiasa mampu meneladani kebajikan yang dilakukan oleh para guru dan para pendahulu kita.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 
Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

Baca Juga



No comments:

Post a Comment

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"




SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS