BALI.BM- “Para pemangku kepentingan pendidikan tinggi tidak dapat lagi berpangku tangan di era pasca globalisasi. Mahasiswa sebagai penerus bangsa perlu dipersiapkan menghadapi era pasca globalisasi, termasuk Industry 4.0 yang menuntut sumber daya manusia/SDM yang siap kerja di berbagai lini", demikian disampaikan Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional/HPI pada sesi pembukaan Bimbingan Teknis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kegiatan tersebut bertema Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Vokasi Dalam Rangka Penyesuaian Dengan Revolusi Industri 4.0 serta Kerjasama Luar Negeri. (17/5)
Selaku narasumber utama, Dirjen HPI menyampaikan dinamisnya perkembangan hukum dan kebijakan perdagangan internasional terkait sektor pendidikan. Ditegaskan bahwa perguruan tinggi nasional perlu semakin mengembangkan program-program studi yang berkualitas sehingga tidak hanya mencetak tenaga kerja siap pakai tetapi juga program studi yang dapat bersaing dengan program yang ditawarkan perguruan tinggi asing.
Pada sesi diskusi, para peserta menyampaikan kekuatiran mereka akan meningkatnya jumlah perguruan tinggi asing yang membuka kampus cabang di Indonesia. Dirjen Damos lebih lanjut menanggapi bahwa sesuai dengan komitmen Pemerintah RI dalam berbagai perjanjian bilateral dan multilateral, perguruan tinggi asing jangan dipandang sebagai ancaman melainkan suatu batu loncatan agar perguruan tinggi lokal terus meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan kapasitas tenaga pengajar serta modernisasi infrastruktur perguruan tinggi.
Di samping itu disampaikan pula beberapa contoh perjanjian internasional yang telah dirampungkan Indonesia dengan negara mitra terkait pengembangan pendidikan vokasi. Sesuai arahan Presiden RI mengenai pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia, pendidikan vokasi difokuskan agar menghasilkan lulusan-lulusan yang unggul dan berkarakter, mempunyai nilai-nilai kebangsaan serta relevan dengan pembangunan nasional termasuk kebutuhan tenaga terdidik dan terampil.
Pertemuan yang berlangsung tanggal 17-19 Mei 2018 telah dihadiri oleh 150 partisipan dari 80 Perguruan Tinggi perguruan tinggi negeri dan swasta baik akademik maupun vokasi yang berlokasi di Bali dan Nusa Tenggara. Pertemuan telah dibuka oleh Acting Direktur Pembelajaran, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI.
# Gan








No comments:
Post a Comment