Satya (Zhong) dan Tepasalira (Shu) - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JANGAN KENDOR! TETAP JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN"

https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Tuesday, December 15, 2020

Satya (Zhong) dan Tepasalira (Shu)

Ws Sugiandi Surya Atmaja
 
Satya atau Zhong merupakan hubungan vertikal manusia kepada Sang Maha Khalik, sebagai upaya menjalan perintah Tian dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan Tepasalira atau Shu merupakan hubungan horizontal antara sesama manusia, sebagai pengejawantahan dari Satya atau Zhong kepada perintah Tian. Sikap Tepasalira berarti melakukan perbuatan bajik kepada manusia yang berlandaskan hati nurani atau xin.

Apakah Satya sama artinya dengan Setia? Sikap Satya atau Zhong itu sendiri dapat diartikan lebih sederhana dengan aksara Setia. Setia kepada tugas, janji, dan kata-kata adalah panggilan rasa Satya atau Zhong. Seorang manusia yang hendak menegakkan Satya atau Zhong, tidak mungkin meninggalkan rasa setia kepada tugas/janji/kata-katanya. Karena Setia itulah bentuk mini Satya atau Zhong. Setia merupakan awal dari panggilan rasa Satya. Satya dibangun dengan segala rasa Setia.

Apakah arti Tepasalira atau dengan kata lain Teposliro? Tepasalira dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI) diartikan sebagai dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi. Atau dengan pemahaman sederhana bila dicubit merasa sakit, maka kita jangan mencubit orang lain.

Bagaimana pengertian Satya dalam Iman Khonghucu? Dalam Kitab Lun Yu (XIII : 3), dijelaskan Cu Lo bertanya: Kalau pangeran Wee mengangkat Guru dalam pemerintahan, apakah yang akan Guru lakukan terlebih dahulu? Nabi bersabda: "Akan Kubenarkan dahulu Nama Nama.."

Di sini dengan tegas Nabi Kongzi (Zhi  Sheng Kong Zi) telah memberikan    suatu tindak yang utama dari cara    penyelenggaraan kepemerintahan, yaitu dengan membenarkan Nama  - sesuai predikasi (Zheng Ming). Apabila nama-nama benar sesuai predikasinya dan menjalankan sesuai amanat yang diembannya, maka seorang manusia tersebut berprilaku Satya.

‘Manusia’, yang namanya manusia itu tentunya tidak ingkar dari kodrat kemanusiaannya! Bila disadari, bahwa dalam diri manusia itu telah mengemban karunia dan tugas dalam Watak sejatinya (Xing) dan inilah yang membuat dan menjadikan manusia yang manusiawi.

Dalam Kitab Lun Yu (XII: 11) dijelaskan juga: Pangeran King dari negeri Cee bertanya tentang Pemerintahan kepada Nabi Khongcu. Nabi bersabda: Pemimpin hendaklah sebagai Pemimpin. Pembantu sebagai Pembantu. Orangtua sebagai Orangtua. Dan Anak sebagai Anak! Pangeran itu berkata: Sungguh bagus!

Kalau pemimpin tidak dapat menempatkan diri sebagai pemimpin, pembantu tidak sebagai pembantu, orangtua tidak sebagai orangtua, dan anak tidak sebagai anak, meskipun berkecukupan makan, dapatkah kita menikmatinya?

Bagaimana pengertian Tepasalira dalam Iman Khonghucu? Kitab Lun Yu (XV : 24) menjelaskan: Cu Khong bertanya: Adakah satu kata yang boleh menjadi Pedoman Sepanjang Hidup? Nabi bersabda: Itulah Tepaselira! Apa yang tidak diinginkan oleh diri-sendiri janganlah diberikan kepada orang lain.

Dari ayat di atas dengan jelas Nabi Kongzi memberikan suatu sikap hidup yang dapat dipakai sepanjang hidup. Yakni Tepaselira (Shu)! Bila dalam hidup manusia selalu mengukur segala tindakannya dengan hati-nuraninya, dipertanyakan pada dirinya layak dan pantaskah itu, bila dikenakan pada dirinya bisakah / maukah dirinya menerima dan segala perbuatan sesuai dengan hati-nurani  masing-masing yang tentu sama adanya (Ren Yi Li Zhi), maka kehidupan ini tidak akan menyimpang dari Jalan Suci (Dao). Karena demikianlah maka Nabi Kongzi sampai bersabda, bahwa Tepaselira itu dapat dipakai sebagai satu kata yang menjadi pedoman sepanjang hidup!

Tidak hanya itu, dalam Kitab Zhong Yong (XII : 3) dijelaskan: “(....apa yang tidak diharapkan mengena diri sendiri, janganlah diberikan pada orang lain , itu tidak jauh dari Jalan Suci )!”

Dalam ayat tersebut disabdakan "Apa yang tidak diharapkan mengena diri sendiri, jangan diberikan kepada orang lain”. Bagaimana konteksnya? Dengan memberikan baju bekas yang sudah tidak kami pakai atau inginkan kepada korban gempa di NTB atau Palu misalnya, apakah ini tidak bertentangan dengan ayat tersebut?

Dalam pemahaman Tepasalira, ukurannya adalah hati nurani atau xin, bukannya objek benda atau baju bekas tersebut. Seseorang yang mendapat musibah gempa, hatinya sedang berduka. Uluran tangan yang tulus dari hati nurani atau xin memberikan baju layak pakai tentunya sangat membantu meringkan beban penderitaan hati yang berduka.

Kondisi tersebut ukuranya adalah hati  yang tulus memberi dan hati yang menerima. Dan ingatlah! penilaian Tian terhadap manusia ukurannya adalah kebajikan. Hal ini terdapat dalam salam agama kita bahwa hanya kebajikan Tian berkenan "Wei De Dong Tian, Yian You Yi De".

Jadi, manusia pada kodratnya memang terpanggil untuk mengabdi kepada Tuhan (Tian). Hal ini sudah  merupakan suara hati-nuraninya. Dalam Khonghucu, perwujudan pengabdian itu didasari oleh tuntutan  rasa Satya atau Zhong. Dan ini adalah  Satya kepada apa yang difirmankan Tuhan (Tian Ming), menepati kodrat kemanusiaan, menggemilangkan kebajikan (Ming Ming De).

Satyalah kepada-Nya! Tuhan telah menurunkan firman-Nya (Tian Ming) kepada manusia. Tegakkanlah (Li Ming) dan sempurnakanlah itu (Cheng Ming), demikian Satya kepada-Nya  (Zhong Yu Tian). Sempurnakan diri agar hakekat kemanusiaan itu gemilang adanya! Selalu berbuat kebajikan berlandaskan tepasalira atau Shu kepada sesama (Shu Yu Ren).

Baca Juga


 

Ws. Sugiandi Surya Atmaja (Rohaniwan Khonghucu)

No comments:

Post a Comment

Pernyataan Presiden RI tentang Perkembangan PPKM Terkini di Istana Merdeka



ANALISIS CURAH HUJAN

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS