![]() |
| Dubes Mansyur Pangeran Beserta Seluruh Staf. (foto;humas KBRI) |
SENEGAL.BM- Meski berada di perantauan dengan jarak beribu-ribu mil jauhnya dari tanah kelahiran, tidak mengecilkan semangat para ABK dan masyarakat Indonesia di Dakar untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama. Mereka justru memanfaatkan momen Idul Fitri yang paling ditunggu-tunggu dengan berkumpul dan saling bersilaturahim bersama saudara-saudara seperantauan.
Seluruh masyarakat Indonesia yang terdiri dari keluarga besar KBRI Dakar, para ABK yang sedang bersandar di pelabuhan Dakar, WNI yang menetap dan bekerja di Dakar, serta warga Senegal berkumpul di Wisma Duta untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama dengan penuh suka cita.
![]() |
| ABK Berbagi Cerita dengan Dubes RI dan Staf. (foto; humas KBRI) |
Hari Raya Idul Fitri 1439 H yang jatuh pada tanggal 15 Juni 2018 di Senegal baru dirayakan pada hari Sabtu, 16 Juni 2018, di Wisma Duta agar kegiatan perayaan lebih fleksibel dan tidak terbatas, serta mengakomodir warga Senegal yang ingin ikut merayakan Idul Fitri dengan masyarakat Indonesia. Acara juga dihadiri oleh beberapa Kepala Perwakilan Asing dan pejabat diplomatik dari negara-negara sahabat seperti Malaysia, Thailand, dan Turki.
Acara halal bi halal berlangsung sangat hangat dalam suasana lebaran dan kekeluargaan layaknya di tanah air. Tidak ketinggalan penganan khas Idul Fitri seperti lontong sayur buncis, rendang, opor ayam, balado udang kentang, ikan pesmol, tauco tahu udang, sate ayam, serta kudapan seperti pastel, risoles, kue putu ayu, bakwan, lapis Surabaya, bika ambon, lemper ayam, es kacang merah dan es yogurt, sengaja dihadirkan secara khusus oleh Ibu-Ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Dakar untuk mengobati rasa rindu dengan tanah air.
Mashud (37), satu-satunya ABK asal Cirebon yang hadir, mengatakan sangat bersyukur bisa berkumpul dengan teman-teman ABK dari kapal lainnya dan masyarakat Indonesia yang ada di Senegal.
“kebetulan kapal lagi rusak pak, masih dicat di pelabuhan, syukur Alhamdulillah jadinya kita bisa mampir ke KBRI,” ujar Mashud.
Mashud menghabiskan waktu hingga sore hari di Wisma Duta sekedar melepas jenuh dari kerasnya kehidupan di lautan, sehingga momen ini Ia manfaatkan untuk saling berbagi cerita dan bercanda tawa dengan para ABK dari kapal lain.
Rata-rata para ABK tersebut dikontrak selama 2 tahun dan sebagian besar telah menjalani 1 tahun masa kontrak. Gaji mereka pun tidak diterima di atas kapal melainkan langsung ditransfer ke Indonesia.
Dubes RI Dakar, Mansyur Pangeran, menyampaikan pesan khusus kepada para ABK akan pentingnya rasa kekeluargaan antar WNI yang berada di luar negeri. Saat di luar negeri jauh dari keluarga maka inilah keluarga kita, saling berbagi, saling memberi, saling menolong dan saling melindungi. Diingatkan pula oleh Dubes Mansyur, agar di atas kapal teman-teman ABK senantiasa menghindari pertengkaran dan tetap menjaga kekompakan dengan sesama ABK dari Indonesia.
Kepada para ABK, Dubes Mansyur juga mengingatkan agar selalu menaati kaidah hukum yang berlaku di negara setempat dan menghindari dari tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Para ABK juga diingatkan agar selalu memperhatikan kelengkapan dokumen perjalanan seperti batas waktu berlakunya paspor, dan agar tidak ragu untuk menghubungi KBRI Dakar sebelum batas waktu berlakunya paspor berakhir untuk menggantinya.
Kehadiran saudara-saudara ABK telah menambah meriah suasana lebaran di Wisma Duta, mengingat jumlah masyarakat Indonesia yang sangat sedikit di Dakar.
Setiap tahun KBRI Dakar tidak pernah lupa untuk mengingatkan agen pelabuhan beberapa minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri untuk mengirimkan data lengkap ABK asal Indonesia yang akan bersandar di Dakar.
![]() |
| Seluruh Masyarakat Indonesia di Dakar Berfoto Usai Acara Halal bi Halal. (foto; humas KBRI) |
Idul Fitri menjadi momen yang pas untuk saling berbagi cerita serta mendengar serunya kisah para ABK mengarungi luas dan kerasnya lautan samudera. Dengan serunya mereka kerap kali memperlihatkan rekaman handphonetingginya ombak di lautan yang menghempas kapal ketika mereka sedang menangkap ikan.
Momen ini juga sekaligus untuk mendengar sejauh mana perlindungan terhadap hak-hak ABK telah dipenuhi baik oleh Kapten kapal maupun agen penyalur.
Perayaan Idul Fitri di Senegal atau dalam Bahasa lokal disebut “Féte de Korité" atau "Korité"memangagak berbeda dengan di Indonesia. Umumnya, di Senegal perayaan Koritetidak semeriah perayaan Idul Adha atau “Tabaski”. Budaya pulang kampung pun biasanya dilakukan sewaktu perayaan Tabaski bukan Korite.
# Gan | KBRI Dakar/Senegal/rilis










No comments:
Post a Comment