SENOPATEN 2020; Inovasi Teknologi Nuklir telah Dimanfaatkan di Bidang Industri dan Kesehatan - Benang Merah News

Breaking

JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19'
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_53.html
COVID-19 DI INDONESIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Friday, November 20, 2020

SENOPATEN 2020; Inovasi Teknologi Nuklir telah Dimanfaatkan di Bidang Industri dan Kesehatan


JAKARTA.BM- Aplikasi teknologi nuklir telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari bidang industri, kesehatan, pangan, sumber daya alam dan lingkungan. Bidang industri dan kesehatan termasuk yang paling banyak memanfaatkan teknologi nuklir. Lantas, apa saja manfaat dari teknologi nuklir di kedua bidang ini?

Jika diperhatikan, keduanya hampir memiliki kemiripan manfaat. Di bidang industri, misalnya, teknologi nuklir digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa tanpa harus membongkar pipa atau menghentikan proses produksi. Sedangkan di bidang kesehatan, teknologi nuklir diantaranya digunakan untuk mendeteksi penyakit seperti kanker atau tumor.

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Kristedjo Kurnianto mengatakan, teknologi nuklir di bidang industri digunakan untuk mengetahui malfungsi, troubleshooting, diagnostik, ataupun optimasi.

“Penggunaan radiasi baik alfa, beta, gamma, maupun sinar – X digunakan untuk membantu di dalam proses industri, seperti proses pengukuran dan kontrol, diagnostik, testing, dan inspeksi,“  tutur Kristedjo dalam Seminar Nasional Inovasi dan Pendayagunaan Teknologi Nuklir (SENOPATEN) 2020, melalui konferensi video Zoom dan YouTube Humas BATAN, Rabu (18/11).

Teknologi nuklir misalnya, digunakan untuk mendeteksi tebal kerak pada dinding pipa tanpa perlu membongkar pipa tersebut, yang disebut dengan horizontal atau pipe scanning.

Teknologi nuklir, dengan Aktivasi Lapisan Tipis (Thin Layer Activation Analysis/ TLA) digunakan untuk mengukur laju keausan (wear rate) material logam yang disebabkan oleh friksi atau erosi.


Saat ini, BATAN tengah mengembangkan beberapa perangkat yang diperlukan untuk bidang industri, seperti perangkat radioskopi, pengujian prototipe beta di industri manufaktur, dan CT untuk produk manufaktur. “Mirip dengan CT scan di bidang kedokteran, tetapi kalau ini CT untuk indsutri,” terangnya.

BATAN juga tengah mengembangkan Sistem Pemantauan Radiasi Nasional yang masuk kedalam salah satu Prioritas Riset Nasional.

Di bidang kesehatan, Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler Indonesia (PKNTMI), dr. Eko Purnomo mengemukakan, cikal bakal kedokoteran nuklir tidak lepas dari sejarah BATAN. Reaktor nuklir pertama, reaktor Triga, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1965. Dua tahun kemudian, tahun 1967, dibangunlah Pelayanan Kedokteran Nuklir pertama di Pusat Reaktor Atom Bandung,  yang selanjutnya dipindahkan ke R.S Hasan Sadikin di Bandung.

Eko menerangkan, kedokteran nuklir adalah pelayanan kesehatan penunjang dan atau terapi yang menggunakan sumber radiasi terbuka dari disintegrasi inti radionuklida.

“Keunggulan dari kedokteran nuklir adalah bisa memberikan terapi dan diagnostik atau dikenal dengan istilah teragnostik,” lanjutnya.

 Pelayanan diagnostik, digunakan untuk mengetahui fungsi organ tubuh, dengan menyuntikkan, atau meneteskan, minum dosis kecil radiofarmaka dilanjutkan pencitraan dengan alat scan Gamma Camera atau PET. Sedangkan pelayanan terapi dengan radiofarmaka digunakan dengan cara diminum, disuntikkan, di tempel di kulit atau disinari neutron.

“Diagnostik dengan menggunakan radiofarmaka yang dikembangkan BATAN ini bagus sekali. Dia (radiofarmaka) bisa mendiagnosa fungsi organ mulai dari ujung kepala sampai kaki. Mulai dari otak, saluran air mata, tiroid, paratiroid, paru, jantung, payudara, hati, dan ginjal,” jelasnya.

“Bisa juga untuk mendiagnosa usus yang bocor, tanpa harus mengeluarkan usus yang bermeter-meter itu, sangat membantu sekali,” sambungnya.

Sedangkan untuk terapi, radiofarmaka digunakan untuk terapi kanker tiroid, hipertiroid, mengurangi rasa nyeri di tulang, keloid, dan sebagainya.

Saat ini BATAN tengah mengembangkan 3 produk radiofarmaka yang sangat dibutuhkan masyarakat, yakni Generator Mo-99/Tc-99m, radiofarmaka berbasis PSMA (Prostate Specific Membrane Antigen) atau Lu-177-PSMA, dan kit radiofarmaka nanokoloid HSA. Tc-99m banyak digunakan untuk diagnosis penyakit kanker, jantung, dan ginjal. Produk Lu-177-PSMA selain untuk diagnosis dan terapi kanker prostat, hasil pencitraan sebaran radiofarmakanya dapat digunakan pula untuk mengetahui status terakhir sebaran kanker yang ada di dalam tubuh. Sedangkan Kit radiofarmaka nanokoloid HSA berguna untuk mendiagnosis sebaran kanker ke kelenjar limfa (limfoscintigrafi), khususnya sebaran dari kanker payudara.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan bahwa seringkali penelitian dari skala lab kemudian berhenti pada skala simulasi atau prototipe, yang dikenal dengan istilah valley of death.

“Seringkali produk inovasi bukan yang dibutuhkan oleh masyarakat atau industri. Karena itu, inovasi mengharuskan adanya kolaborasi triple helix (akademisi, pemerintah, dan industri) untuk menghindarkan dari dead of valley,”pungkasnya (tnt)
 

Baca Juga

# Gan | Humas Batan

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS