Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JANGAN KENDOR! TETAP JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN"


Sunday, June 4, 2023

Orang Benar Membangun Bangsanya dengan Integritas

Pdt. Dr. Manahan Uji Simanjuntak.,MA.,MPd (Ketua Dep. Pendidikan dan Pengajaran Sinode GSPDI)

Amsal 14:34 Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa

Setiap orang di bangsa ini bertanggung jawab membangun, merawat, membela dan menjunjung tinggi harkat dan martabat Bangsa Indonesia. Kekuatan Bangsa tidak semata mata dilandaskan kepada semua material infrastruktur. Semua material dibutuhkan namun tidak melebihi dari entitas manusia dengan segala kecerdasan dan kebijaksanaannya sebagai tumpuan utama dan mendasar bagi berdirinya kokoh bangsa ini. Umat Kristiani memiliki tanggung jawab atas implementasi kebenaran hakiki Amsal 14:34 yang disebut sebagai tuntutan, keharusan untuk meninggikan derajat Bangsa Indonesia. Meninggikan derajat bangsa adalah tuntutan dari sebuah kewajiban dan tanggung jawab kepada perintah Tuhan Allah.

Jika “kebenaran” meninggikan derajat Bangsa (Ams 14:34), lalu kebenaran apa dan kebenaran yang bagaimana yang dimaksudkan? Tuhan Allah membutuhkan manusia ciptaanNya untuk menjadi representasi penerapan firmanNya dalam diri manusia (Yoh 1:10-11). Kebenaran Allah mewujud (tergenapi) dalam diri manusia adalah sebagai penyataan Allah (Luk 1:37) untuk mengintervensi semua, bagi semua hal (semesta) melalui manusia itu sendiri. Dalam Yohanes 17:17 dikatakan bahwa Kebenaran itu adalah Firman Allah juga disebut sebagai Allah itu sendiri, yang mencipta, memelihara dan melahirkan kembali manusia itu sendiri dengan Firman/ Kebenaran (1 Pet 1:23).

Kebenaran yang ditulis dalam bahasa Ibrani adalah צדקה tsadaqah / tsedawkaw’ memiliki beberapa makna sesuai dengan pemakaian kata tersebut dalam konteks-konteks tertentu. Dengan kata lain bahwa praktek kebenaran yang meninggikan derajat bangsa sesuai dengan kandungan makna dan kualitasnya terdapat dalam berbagai kehidupan nyata yang harus dikerjakan umat Tuhan melalui kesaksian perilaku:

Kebenaran (tsadaqah / tsedawkaw)

1. Adil
Sikap dan tindakan adil merupakan kebenaran yang berbanding lurus dengan cara pandangan Tuhan terhadap semua orang. Sebagai orang percaya dituntut bertanggung jawab menegakkan derajat bangsa dengan menerapkan sikap hidup yang adil dalam semua aktivitas. Bangsa ini telah menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang kuat dengan didasarkan juga kepada Dasar Negara yakni Pacasila pada sila ke 5 di mana keadilan menjadi hak semua warga negara bersamaan dengan kedudukan. Itu yang menyebabkan bangsa ini menjadi kuat walaupun dengan beraneka ragam suku, kaum dan bahasa. Praktek-praktek keadilan masih dalam tataran proporsional sehingga masih dalam dominasinya walaupun dalam berbagai sisi kehidupan di mana pelanggaran atas keadilan tersebut bisa terjadi. Anak-anak Tuhan harus tetap menjadi agent keadilan dalam semua sisi kehidupan, karena kita dipanggil Tuhan untuk itu.

2. Tindakan benar
Sering sekali bahwa tindakan benar disamarkan dengan tindakan baik dan cenderung tindakan baik dikedepankan dengan tidak melihat sisi kebenarannya. Penerapan Etos kerja dengan dalih memberikan tanggung jawab adalah baik. Tetapi apabila itu melanggar keadilan dengan mengabaikan hak-hak atas orang-orang yang harus mendapatkan waktu-waktu yang berkualitas dari keluarga, sehingga menjadi korban dari keharmonisan keluarga. Seorang Ayah yang meninggalkan keluarganya demi sebuah etos kerja, maka itu juga tidak benar. Dengan demikian kebenaran itu harus menjadi cermin pantul (refleksi) bagi semua untuk semua sehingga memandang semua tindakan dan perbuatan itu dari persfektif yang luas.

3. Cukup
Rasa cukup, keadaan cukup, tindakan yang cukup (Amsal 30:8) didasarkan kepada penguasaan diri yang bertumpu kepada pengertian bahwa hak seseorang tidak boleh mengganggu atau merusak hak-hak orang lain. Makna yang terkandung dalam kebenaran ini yakni rasa cukup, menjadi kebutuhan utama atas bangsa ini sehingga semua sektor bisa memberikan kontribusi yang maksimal bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa harus dikorupsi. Kehilangan rasa cukup adalah fakta mendasar yang menciptakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang ada di mana- mana. Tuhan memberikan standar rasa cukup di dalam pengertian bahwa Tuhan akan memelihara orang orang percayaNya dengan cukup pada hari ini saja (Matius 6:11). Kesusahan sehari cukup satu hari, hari esok Tuhan menjamin dengan pemeliharaanNya yang kuat dan berdaulat tanpa dibatasi oleh apapun (Matius 6:34)

4. Kesalehan
Kesalehan selaras dengan ibadah di mana, di sana ada peristiwa komitmen dan persekutuan dengan penciptaNya. Ayub (Ayub 1:1) dan Nuh (Kej 6:9) digambarkan sebagai orang-orang yang bersekutu dengan Tuhan dan disaksikan oleh Alkitab bahwa keduanya adalah orang-orang yang diperhadapkan kepada tantangan hidup yang luar biasa. Kebenaran hidup yang mereka jalankan membuat Tuhan bertindak mempercayakan kehidupan kepada orang lain melalui mereka. Kesalehan anak-anak Tuhan berimplikasi dengan ketahanan Bangsa, ketika anak-anak Tuhan bersekutu dengan Tuhan Allah yang menjaga bangsanya, maka bangsa itu juga akan menjadi tempat Tuhan bertahtah (2 Tawarikh 7:14).

5. Kejujuran
Manusia Indonesia adalah penopang terkuat bagi kedaulatan Bangsa dengan keyakinan hidup yang didasarkan kepada kebenaran, di mana kebenaran itu mengajarkan kejujuran, dan kejujuran itu adalah pengakuan secara tebuka tentang hak-hak orang lain yang dipercayakan kepada kita. Sikap ke-jujur-an merupakan cerminan hidup manusia-manusia Indonesia yang memiliki integritas sebagai sumbangan tebesar kepada kedaulatan Bangsa. Kejujuruan mengajarkan bagaimana ketulusan (Amsal 11:3), dan ketulusan mengajarkan kerelaan untuk transparansi, dan transparansi mengajarkan hidup yang siap dikoreksi untuk kebaikan (Bangsa Indonesia).

Derajat bangsa ditegakkan oleh Kebenaran, dan Kebenaran menuntun kehidupan bangsa yang kuat dan makmur serta berkeadilan dalam segala hal. Anak-anak Tuhan dituntut membangun bangsanya secara fundamental dengan memberikan hidup yang berintegritas berdasarkan Firman Tuhan. Derajat hidup bangsa ditentukan oleh anak-anak Tuhan yang memberikan hidup dengan kualitas dan integritas yang teruji dalam semua hal termasuk dalam dunia kerja masing-masing. Kekuatan bangsa terletak kepada kualitas manusianya dan kualitas manusia Indonesia sangat ditentukan dengan kompleksitas karakter hidup yang didasarkan kepada kebenaran Firman Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati. Shalom

Pdt. Dr. Manahan Uji Simanjuntak.,MA.,MPd (Ketua Dep. Pendidikan dan Pengajaran Sinode GSPDI)

Baca Juga

No comments:

Post a Comment

Klik Informasi Yang Anda Butuhkan


"Prakiraan Cuaca Kamis 22 Februari 2024"


"BOFET HARAPAN PERI"


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS