Max Stahl, Wartawan Perang yang Meliput Peristiwa Santa Cruz di Dili, Meninggal di Brisbane - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JANGAN KENDOR! TETAP JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN"

https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Saturday, October 30, 2021

Max Stahl, Wartawan Perang yang Meliput Peristiwa Santa Cruz di Dili, Meninggal di Brisbane

Max Stahl mendokumentasikan perjuangan Timor Leste untuk mencapai kemerdekaan.(Supplied: East Timor Relief Association archives)


BENANGMERAHNEWS.COM- Max Stahl, seorang wartawan perang dan pembuat film, pernah mengabadikan peristiwa mematikan di Santa Cruz, kota Dili pada tahun 1991. Ia baru saja meninggal di Brisbane pada usia 66 tahun.

Max dilahirkan di Inggris dengan nama Christopher Wenner pada tahun 1954.

Sepanjang karirnya ia sudah mendapat banyak penghargaan internasional atas liputan mengenai konflik dan perang di seluruh dunia.

Namun salah satu karya jurnalistiknya yang paling dikenal adalah ketika ia mengabadikan kejadian di tempat pemakaman Santa Cruz di Dili tahun 1991.

Tentara Indonesia mengarahkan tembakan kepada orang-orang dalam peristiwa yang menewaskan 270 orang tersebut.

Rekaman tentara Indonesia menargetkan para pengunjuk rasa pro-demokrasi kemudian menarik perhatian dunia soal apa yang terjadi di Timor Timur.


Rekaman Max Stahl yang menunjukkan warga berlari menghindari tembakan tentara Indonesia.


 
Mengetahui jika dia akan ditahan, Max kemudian menyembunyikan rekamannya di batu nisan, lalu diseludupkan ke luar Timor Timur yang saat itu berada di bawah kekuasaan Indonesia.

Max kembali lagi ke Timor Timur di tahun 1999 bersamaan dengan penyelenggaraan referendum untuk menentukan masa depan kawasan tersebut.

Ia lalu merekam lagi berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi, setelah sebagian besar warga memutuskan untuk memerdekakan diri dari Indonesia dalam referendum yang diawasi oleh PBB.
 
Tempat pemakaman Santa Cruz di Dili yang menjadi lokasi penembakan oleh tentara Indonesia yang menewaskan 270 orang.(Flickr: Santa Cruz Cemetery/Molly Mueller)

Max merupakan salah satu dari sedikit wartawan asing yang tetap berada di Timor Leste, ketika banyak wartawan asing sudah meninggalkan negara tersebut akibat banyaknya kekerasan.

Ia pernah mendapatkan 'Rory Peck Award' dari Amerika Serikat, sebuah penghargaan yang diberikan kepada juru kamera 'freelance' yang bekerja di daerah konflik.
 
Warga di Darwin (Australia) berbaring di jalan untuk menggambarkan peristiwa Santa Cruz di Dili tahun 1991.(littledarwin blog)

Jose Ramos-Horta, penerima Nobel yang juga mantan presiden dan perdana menteri Timor Leste, pernah mengatakan "hanya ada beberapa titik dalam sejarah Timor Leste yang mengantarkan mereka pada kemerdekaan".

Dan menurutnya peristiwa Santa Cruz yang terekam oleh Max adalah salah satu diantaranya.

    "Untuk pertama kalinya pesan kami dilihat oleh dunia," kata Jose dalam sebuah pesan di media sosial.

Setelah meliput di berbagai daerah konflik seperti di Chechnya dan Beirut di tahun 1980-an dan 1990-an,  Max yang lulusan dari Oxford University menetap di Dili.

Dia juga belajar bahasa Tetun dan merekam sejarah dari negara yang baru merdeka di tahun 1999 tersebut.

 
Max Stahl dihormati sebagai pahlawan oleh warga Timor Leste.(Supplied: Facebook)

Kepada teman-temananya, Max mengatakan dia '"jatuh cinta" kepada Timor Leste dan warganya.

Max kemudian mendirikan Pusat Audiovisual bernama Max Stahl Timor-Leste Audiovisual Centre, di mana dia menyimpan sekitar 5 ribu jam rekaman video yang mendapat pengakuan dari badan UNESCO.

Rekaman itu termasuk hasil karyanya sendiri selama 30 tahun.

 Max Stahl mendapat penghargaan tertinggi di Timor Leste Order of Timor. (Supplied: Facebook)

Jose Ramos-Horta mengatakan Timor Leste menghargai Max sebagai "salah satu pahlawan dalam perjuangan kami yang membantu membentuk negara kami selamanya".

Ayah beranak empat tersebut meninggal hari Rabu lalu di kota Brisbane, setelah berjuang melawan kanker sejak tahun 2012.

Ia meninggal dalam kondisi sedang ditemani istrinya, Dr Ingrid Bucens dan keluarganya.
 
Sumber; Lihat Disini!
 

Baca Juga

#Gan | ABC

No comments:

Post a Comment

“Perkembangan Penanganan Covid-19 di Indonesia per 16 November 2021”


“MENGAPA 10 NOVEMBER DIPERINGATI SEBAGAI HARI PAHLAWAN?”


"BAHAYA MASIH MENGANCAM"



"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS