Mimbar; Tergerak Hati oleh Belas Kasihan - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JANGAN KENDOR! TETAP JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN"

https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Sunday, July 18, 2021

Mimbar; Tergerak Hati oleh Belas Kasihan

Ilustrasi Mimbar Katolik

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Pekan ini, Gereja memasuki Minggu Biasa XVI tahun liturgi B. Bacaan Injil diambil dari Injil Markus 6:30-34. Ini merupakan lanjutan dari bacaan minggu sebelumnya tentang Yesus mengutus keduabelas rasul.

Bacaan Injil minggu ini dibuka dengan keterangan: Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

Setelah selesai dengan tugas perutusannya, para rasul kembali kepada Yesus dan berkumpul dengan Yesus. Mengapa kembali kepada Yesus, karena Yesuslah yang mengutus mereka, dan bahkan bukan hanya mengutus namun juga memberi kuasa.

Setelah kembali dan berkumpul, para rasul menceritakan pengalaman mereka atas tugas perutusan itu. Ada dua yang diceritakan, yaitu: apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka ajarkan.

Apa yang dilakukan para rasul ini, persis meniru apa yang dilakukan Yesus, Sang Guru. Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah, Allah yang merajai manusia. Dan pewartaan-Nya diteguhkan dengan karya-Nya, yaitu tanda ajaib dalam bentuk mukjizat.

Pewartaan Yesus pada bab pembuka Injil Markus adalah “Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah…” Pewartaan yang sama disampaikan para rasul ketika mereka diutus oleh Yesus. Ketika Allah merajai, maka situasi damai, sejahtera, sukacita yang akan terjadi.

Begitulah cerita pengalaman para rasul ketika mereka diutus dan kemudian kembali kepada Yesus. Apakah ada yang ditolak ketika mengajar dan membuat tanda-tanda, mungkin ada, hanya tidak diceritakan oleh penginjil. Tapi ada kemungkinan bahwa pengalaman itu, diceritakan oleh para rasul kepada Yesus ketika mereka sedang berkumpul.

Dalam kisah yang lain, yang ditulis oleh Lukas, para murid menceritakan pengalamannya masing-masing dan kemudian Yesus memberikan peneguhan, bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.

Dari bacaan ini ada beberapa pesan yang bisa kita ambil. Bekerja dan berkarya adalah tugas sekaligus panggilan kita. Dikatakan tugas karena memang kita ditugaskan di tempat dan bagian itu. Namun sekaligus panggilan karena kita dipanggil Tuhan untuk menjalankan dan melayani di tempat dan bagian itu.

Kalau bercermin dari pengalaman para rasul ketika diutus, tampaknya ada juga pengalaman tidak mengenakkan melaksanakan panggilan perutusan itu. Walaupun banyak juga pengalaman yang menyenangkan, positif, dan membanggakan. Namun, apapun pengalamannya, para rasul kembali kepada Tuhan dan berkumpul dengan Tuhan. Kita pun diajak untuk seperti para rasul, kembali kepada Tuhan, berkumpul dengan Tuhan, pastilah dalam doa, dan menceritakan pengalaman-pengalaman kita kepada Tuhan.

Yang kedua, pesan yang bisa diambil adalah kita diutus untuk mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah. Bukan mewartakan diri sendiri, bukan pula keinginan, kehendak, dan pikiran kita sendiri. Ketika Allah menjadi raja atas hidup kita dan atas kehidupan ini, maka situasi damai, sejahtara, dan sukacitalah yang akan terwujud. Kita akan mampu menghadirkan Kerajaan Allah dalam diri sesama dan lingkungan, kalau dalam diri kita sendiri Allah menjadi raja.

Ciri yang paling kelihatan kalau Allah hadir dalam diri kita adalah seperti dituliskan pada ayat terakhir bacaan ini, tergerak hati oleh belas kasihan. Belas kasihan ialah suatu perasaan yang menggerakkan hati sanubari orang. Perasaan ini membuat seseorang merasa sedih melihat penderitaan dan kemalangan sesamanya, disertai dorongan yang kuat untuk menolong.

Belas kasihan merupakan ciri khas Allah dan Putra-Nya Yesus. Dengan semangat itu, kita bisa menghadirkan kerajaan Allah di keluarga, masyarakat, dan tempat tugas kita masing-masing.

 
Gregorius Heri Eko Prasojo (Pembimas Prov. Kep. Bangka Belitung)

Baca Juga

 

No comments:

Post a Comment

Jadikan Prokes PON XX Papua Sebagai Acuan Ajang Olahraga Pada Masa Pandemi
"BAHAYA MASIH MENGANCAM"



"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS