Mimbar Hindu; Asewaka Dharma - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19"
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Monday, December 21, 2020

Mimbar Hindu; Asewaka Dharma

I Gede Rudia Adiputra

Om Swastyastu. Umat sedharma yang berbahagia. Semoga semuanya dalam keadaan sehat walafiat dan santi dinamis bersama keluarga maupun lingkungan. Mimbar Hindu kali ini mengangkat tema Asewaka Dharma.

Saudara umat sedharma yang berbahagia. Asewaka Dharma berarti pelayan dharma, atau pelaksana/ pelaku dharma. Mengapa kita melayani atau melaksanakan dharma? Untuk apa kita melaksanakan dharma? Ada kata kunci atau motto yang kita patut sadari dan renungkan: Dharma raksata-Dharma raksitah (melayani/ melaksanakan Dharma akan dilindungi oleh Dharma).

Secara universal, dharma berarti hukum abadi, pelindung, pemangku, kebenaran. Sesuai konsepsi ajaran Hukum Karma, maka setiap karma pasti berphala yang berarti jika umat (seseorang) melayani dharma, tentu umat bersangkutan akan dilayani dan atau dilindungi oleh dharma. Jadi untuk apa dan mengapa kita melayani/melindungi dan melaksanakan dharma, adalah supaya kita dilindungi oleh dharma, dilindungi oleh kebenaran.

Dalam kehidupan bersama di masyarakat, baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga masyarakat dan atau sebagai warga negara, setiap umat Hindu memiliki dharma individu yang disebut swadharma. Yakni, dharma atau kewajiban sesuai profesi masing-masing. Dalam hungungan itulah agama kita (Hindu) mengajarkan kepada umatnya, Dharma Agama dan Dharma Negara. Sebagai umat Hindu, wajib dan harus paham dengan kedua dharma itu sejalan dengan profesinya.

Secara umum, dharma (swadharma/kewajiban) kita kepada negara adalah menjaga, membela, dan menjunjung tinggi kehormatan negara. Untuk itu, sebagai warga negara, maka setiap umat Hindu wajib dan harus setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara 1945.

Begitu juga, setiap umat Hindu wajib dan harus memantapkan sraddha-bhaktinya kepada Hyang Widhi dan melaksanakan ajaran agama secara utuh dan berimbang sesuai ajaran masing-masing. Demikianlah umat Hindu wajib bertanggungjawab untuk melaksanakan swadharmanya kepada negara dan kepada agama dalam waktu bersamaan selama hidup ini.

Umat sedharma yang terkasih. Bagaimana umat Hindu dapat melaksanakan dua dharma sekaligus dalam waktu bersamaam?

Kerangka ajaran agama meliputi Tattwa, Susila, dan Acara. Upaya memantapkan pemahaman akan Tattwa agama dan sraddha bhakti kepada Tuhan (Hyang Widhi), berarti telah melaksanakan Dharma agama. Dengan mantapnya sraddha bhakti kepada Tuhan, itu berarti telah mengamalkan sila pertama Pancasila.

Demikian pula dengan melaksanakan ajaran susila, berupa tertib berperilaku dalam keseharian sesuai ketentuan peraturan yang berlaku, berarti umat Hindu taat kepada hukum sekaligus menegakkan Indonesia sebagai Negara hukum.

Begitu juga mengamalkan ajaran agama, yakni tattwamasi dan wasuda iwa kutumbhakam, merupakan bentuk nyata pengamalan sila kemanusiaan yang adil dan beradab sekaligus mempertahankan sila ketiga, yakni persatuan Indonesia.

Usaha memantapkan sraddha bhakti untuk mewujudkan tujuan hidup beragama di dunia (maya pada/ marca pada), yakni jagadhita adalah upaya yang sejalan dan sama dengan tujuan kemerdekaan NKRI yaitu mewujudkan kehidupan yang sejahtera, tertib, adil dan makmur seperti yang tersirat dalam pembukaan UUD 1945.

Saudara umat sedharma yang terkasih. Berbicara dan membahas tentang swadhama, tetap dan selalu menarik. Apalagi, profesi umat sangat beragam dengan keterampilan yang berbeda, tempat tinggal/geografi berbeda, serta tingkat pemahaman yang berbeda. Untuk itulah, orang tua wajib membina anak-anak/putra-putri dengan penuh kasih. Sebaliknya, anak-anak dan remaja patut terus belajar-berlatih dan menempa diri dengan cara tidak henti-hentinya mohon bimbingan, petunjuk, contoh dari para senior, lebih-lebih kepada orang tua dan para guru.

Begitu juga para pemuka umat dan para pakar, termasuk para praktisi, hendaklah tidak pernah jemu memberikan tuntunan kepada generasi penerus dan memberikan perlindungan kepada mereka. Sehingga, para generasi muda mampu menghadapi kehidupan di jamannya dengan kemandirian tanpa kehilangan jati diri sebagai umat Hindu dan juga sebagai warga Negara yang berpancasila.

Semua umat tanpa kecuali orang tua/sanyasin, wanaprastin, grehastin, brahmacarya, termasuk yang cacat fisik, wajib dan harus senantiasa tegar menghadapi berbagai kondisi dan tantangan hidup tanpa pernah putus asa. Sebaliknya, semuanya harus terus bersemangat untuk melatih diri agar mampu unggul dalam persaingan global.

Ajaran agama menjamin segenap umatnya untuk dapat beragama efektif, efisien, selama umat memiliki pemahaman yang utuh, berimbang dan mendalam tentang ajaran-ajaran agama, terutama yang berkaitan dengan sastra atau tattwa.

Saya mengajak dan berharap kepada setiap umat Hindu yang tergolong pemuka umat, pemuka agama, para cendikiawan, mahasiswa dan siswa atau segenap remaja di manapun berada, untuk saling bergandengan tangan, bahu-membahu, dan saling mengingatkan. Dengan demikian, semua umat Hindu diharapkan dapat tetap selalu sadar untuk melaksanakan swadharma kepada catur kangsinangguh guru (Guru Swadiaya/ Tuhan/ Hyang Widhi, Guru Wisesa/ Pemerintah, Guru Pengajian/ Bapak-Ibu Guru sekolah/ Dosen, Guru Rupaka/ ayah-ibu) dengan hasil maksimal dalam kehidupan bersama.

Om Ano bhadrah kretawo yantu wiswatah. Om Santih, Santih, Santih, Om

 
I Gede Rudia Adiputra (Rohaniwan Hindu)

Baca Juga



No comments:

Post a Comment

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"




SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS