Ceramah Minggu; Hati Hamba atau Hati Bos - Benang Merah News

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19"
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Sunday, August 16, 2020

Ceramah Minggu; Hati Hamba atau Hati Bos

Pdt. Gilbert Lumoindong

Shalom bagi kita sekalian! Saya percaya berkat Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, Allah yang kita kenal dan kita panggil dalam nama Yesus Kristus Tuhan menyertai kita pada hari ini, haleluya.

Umat Kristen di seluruh Indonesia. Hari ini, saya mau berbagi tentang firman dalam Markus 10:43-45. Renungan firman ini saya beri judul: “Hati Hamba atau Hati Bos.”

Saya percaya Alkitab bilang Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, Kristus datang bukan untuk dilayani, bukan untuk jadi bos tetapi untuk melayani. Ia adalah Tuhan di atas segala tuhan, dia adalah Raja di atas segala raja, mengosongkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia untuk dapat apa? Untuk dapat melayani.  

Saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan. Saya khawatir pada hari-hari ini banyak orang hanya ingin dipanggil bos. “Oh iya Bos, apa kabar, Bos?” Semua orang hanya ingin menjadi bos. Padahal, ketika kita sudah diselamatkan Tuhan, kita harus punya spirit, kita harus punya roh yaitu hati hamba.

Markus 10:43-45 yang berkata sebagai berikut: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Ada beberapa perbedaan hati bos dan hati hamba. Pertama, hati bos selalu hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri, hati hamba selalu memikirkan dan menjadi berkat serta berkenan kepada Tuhan.

Kedua, hati bos cenderung memerintah, tetapi hati hamba cenderung mengajak bersama. Kalau orang hatinya bos, cenderung senangnya memerintah: “kamu mesti begini, kamu mesti begitu!” dan ujung-ujungnya akhirnya menghakimi: “Ah, isteri saya ga benar pendeta, mertua saya ga benar pendeta.” Jadi semua orang ga beres karena hatinya hati bos.

Tapi, hati hamba itu hati yang berbeda, hati yang mau belajar mengerti orang lain. Hati yang belajar dan senantiasa mau mengajak bersama-sama, dan dia menyadari bahwa dia hanya hamba. Jadi kalau ada kekurangan dalam diri orang, dia belajar memahami, dia belajar mengerti.

Yesus bilang sama Petrus, “Mari”. Kapan Yesus bilang mari? Pada saat goncangan angin sakal. Kemudian Petrus berkata, jika Engkau Tuhan, suruhlah aku berjalan di atas air ini. Yesus bilang: “Mari”. Petrus sempat berjalan di atas air lalu kemudian tenggelam ketika merasakan tiupan angin, apakah Yesus kemudian marah sama Petrus dan berkata: “Itu hukuman Petrus, karena kamu terlalu kepala batu, kamu sok tahu, sok jago, sok pintar?” Tidak, Yesus mengangkatnya, Yesus menolongnya, bukan menghakimi bukan kemudian memerintah, tapi justru menyelamatkan.

Kalau kau lihat ada kekurangan pada isterimu, ada kekurangan pada suamimu, kau lihat kekurangan pada orang-orang sekitarmu apakah kau hanya memaki, memerintah, menyerang lalu kemudian mengatakan kalau ini ga beres, ini ga becus? Atau sebaliknya, engkau mengajak bersama, kau menolong, kau menguatkan. Bukankah Kristus memberikan kepada kita hati hamba bukan hati bos.

Ketiga, perbedaan antara hati hamba dengan hati bos, hati bos cenderung menyalahkan dan menjatuhkan, hati hamba cenderung menolong dan mengangkat. Pak, isterimu pasti ada kekurangannya. Ibu, suamimu pasti ada kekurangannya. Orangtua, anak-anakmu pasti ada kekurangannya. Para mertua, menantumu pasti ada kekurangannya. Menantu, mertuamu pasti ada kekurangannya. Pertanyaannya kalau kita lihat di sekitar kita, ada orang yang di dalam kekurangan, ada orang yang di dalam kelemahan, ada orang yang di dalam kesalahan,  apakah kita senang menuding-nuding dia? Apakah kita senang memaki-maki dia? Apakah kita senang menghakimi dia kemudian menyingkirkan dia? Atau sebaliknya, kita punya hati hamba, yang cenderung mau menolong, mau menguatkan, mau mendoakan, mau mengangkat?

Saudaraku yang kekasih di dalam Tuhan, Yesus disalib, doaNya luar biasa. Dia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Siapkah kita bermental anak Raja sebagai warga kerajaan tapi pada saat yang bersamaan berhati hamba.  Saya percaya orang-orang yang berhati hamba, rumah tangganya bahagia. Rumah tangga yang bahagia bukan hasil kesempurnaan, rumah tangga yang bahagia adalah hasil kedewasaan dan saling pengertian. Suamimu ada kekurangannya, isterimu ada kekurangannya, orang di sekitarmu, masyarakat di sekitarmu ada kekurangannya. Tapi kalau lihat orang penuh kekurangan lalu kita maki, kita hakimi, kita salahkan, kita singkirkan, saudaraku di dalam Tuhan bukankah jika demikian hidup kita menjadi  batu sandungan dan tidak akan menjadi berkat?

Pemirsa Mimbar Kristen di manapun anda berada. Biarlah pada hari ini kita disadarkan; Tuhan, betul saya sudah diselamatkan, betul Yesus sudah mati buat saya, betul dosa saya sudah diampuni, dan biarlah sekarang saya mau memiliki hati hamba, mental sebagai anak Raja, mental sebagai warga kerajaan tapi tetap menjaga hati ini sebagai hati hamba yang diselamatkan oleh anugerah dan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus.

Di sekitar kita masih banyak ketidakberesan-ketidakberesan, tetapi kita dipanggil untuk jadi terang, untuk jadi berkat, untuk memberi damai, untuk menghadirkan shalom sorga di  tengah-tengah dunia ini. Itu sebabnya, dalam doa, kita berkata: “Bapa kami yang di sorga, di kuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu” dan bagaimana kerajaan Tuhan datang? Tentu lewat kehadiran kita. Alkitab berkata kamulah terang dunia? Bukankah Alkitab berkata berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah?

Keempat, perbedaan hati hamba dengan hati bos adalah, hati bos selalu mau bersaing, berkompetisi karena dasarnya adalah iri hati. Tapi, hati hamba selalu mau memberkati dan memuliakan.

Saudaraku yang terkasih di dalam Tuhan. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang iri hati, penuh dengan  dengki, tidak bisa melihat orang lain lebih sukses, tidak bisa mrlihat orang lain lebih maju. Kalau perlu, mereka yang maju difitnah, digosipkan, disebarkan isu, dikirimkan hoaks yang menyerang. Kalau ada di antara kita yang hari-hari ini sedang dikhianati, difitnah, diterbarkan isu yang buruk dan menyakitkan, maka tidak usah membalas. Sebab, hidup kita bukan ditentukan oleh isu manusia.  Manusia boleh mereka-rekakan yang jahat, Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan.

Hari ini kita mengerti, di sekitar kita masih banyak orang iri, masih banyak orang yang mungkin mengecewakan, menyakitkan hati kita, tetapi Tuhan sanggup mengubah kutuk menjadi berkat. Biarlah hati kita bukan lagi hati bos, biarlah hati kita tetap hati hamba.

Apa artinya hati kita hati hamba? Ketika kita disakiti kita bukan membalas, ketika kita disakiti kita belajar, ketika kita disakiti kita berserah kepada Tuhan, ketika kita disakiti kita tetap beriman, ketika kita disakiti kita tetap bergaul dengan Firman untuk makin dekat dengan Tuhan, karena hanya dengan Tuhan hidup kita tenang.

Daud bilang, melewati lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, gadamu dan tongkatmu menjadi penghiburan bagi aku. Ketika kita disakiti, iblis mengintimidasi kita supaya kita lari dengan narkoba, kita lari dengan seks bebas, kita lari dengan keputusan-keputusan yang nekat dengan hidup kita  sambil berkata apapun yang terjadi terjadilah. Tetapi anak-anak Tuhan tetap berserah kepada Tuhan, tetap hidup dalam kasih,  tetap hidup dalam pengharapan, tetap hidup dalam iman, tetap hidup dalam semangat, anak-anak Tuhan tetap hidup dalam sukacita.

Kita tidak akan membalas yang jahat dengan yang jahat karena Firman Tuhan mengajarkan, jika seseorang menampar pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu. Artinya, membalas yang jahat dengan yang jahat tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, tetapi memberkati orang yang jahat dengan kita itu mengangkat kehidupan kita, masuk dalam dimensi rohani sehingga kita mengalami tuntunan Firman dan Roh Kudus yang luar biasa.

Di hari minggu yang penuh sukacita ini, Tuhan sedang mengajar kepada kita. Betul dosa kita telah diampuni, betul kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, betul kita sudah dipilih sebagai warga kerajaan sorga, karena itu mentalitas kita merupakan mentalitas warga kerajaan, mentalitas kita mentalitas anak Raja, tetapi hati kita tetap hati hamba, hati yang mau melayani.

Kelima, hati bos cepat tersinggung, hati bos cepat dikuasai oleh emosi, amarah bahkan kekecewaan, tetapi  hati hamba selalu bersyukur dan berserah kepada Tuhan. Kalau hari-hari ini engkau sedang kecewa, kalau hari-hari ini engkau sedang marah, kalau hari-hari ini engkau sedang tersinggung, jangan salahkan keadaan karena memang keadaaan kadangkala mengakibatkan hal-hal demikian, karena kita ada di dunia. Betul mungkin kita sudah diselamatkan dan menjadi warga kerajaan sorga, tetapi tanpa hati yang bersih, maka kita tidak akan mengalami kemuliaan Tuhan yang luar biasa.

Biarlah hari ini kita berkata, Tuhan: satu,  aku berterima kasih atas darah yang tertumpah di atas kayu salib; yang kedua, aku berterima kasih karena Roh Kudus menyertai aku; yang ketiga aku berterima kasih karena pasukan malaikat di sorga mengawal aku dan yang selanjutnya aku berterima kasih karena ada Firman yang menguatkan aku dan pada saat yang bersamaan aku juga berterima kasih karena aku sudah diangkat sebagai warga kerajaan sorga. Karena itu, aku berterima kasih. Berikan kepadaku hati hamba, hati yang melayani, sehingga hidupku menjadi berkat, hidupku membawa damai. Aku bisa bersyukur dalam segala hal sambil berkata aku bersyukur kepada Allahku sebab Ia menyertai langkahku.

Dalam bagian lain Daud berkata, singa-singa muda boleh merana kelaparan, tetapi orang yang berharap kepada Tuhan tidak pernah kekurangan sesuatu yang baik.

Selamat hari minggu, milikilah hati hamba dan buang hati bos yang penuh kesombongan. Berjalan dalam kasih karunia, iman, pengharapan dan kasih. Amin



Pdt. Gilbert Lumoindong

Baca Juga

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS