Ramadhan di tengah karantina virus corona di London; Ada Masjid Antarkan Makanan Berbuka Buat Keluarga Membutuhkan - Benang Merah News

Breaking

JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19'
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_53.html
COVID-19 DI INDONESIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Friday, April 24, 2020

Ramadhan di tengah karantina virus corona di London; Ada Masjid Antarkan Makanan Berbuka Buat Keluarga Membutuhkan

Umat Muslim di Inggris diserukan untuk tidak tarawih dan buka puasa bersama di tengah karantina.(Getty Images)

London(INGGRIS).BM- Menjelang Ramadhan, Muslim di London menyesuaikan dengan situasi pembatasan gerak di luar rumahyang ditetapkan pemerintah Inggris. Salah satu kegiatan yang direncanakan satu masjid adalahmengantar makanan ke rumah-rumah keluarga yang membutuhkan.

Dewan Muslim Inggris (The Muslim Council of Britain) sudah mengeluarkan peringatan kepada kaum Muslim di Inggris bahwa Ramadan tahun ini akan berbeda.

Dewan Muslim sudah menyerukan agar kaum Muslim tidak menyelenggarakan salat tarawih berjamaah dan buka puasa bersama, serta menggantinya dengan buka bersama secara daring.

Untuk menu berbuka, Dewan juga menyarankan agar direncanakan dengan baik sehingga kaum Muslim tidak perlu sering-sering keluar berbelanja kebutuhan.

Inggris menerapkan karantina sejak minggu terakhir Maret dan dijadwalkan akan tetap diterapkan sampai minggu pertama bulan Mei.

Kasus infeksi corona sampai Kamis (23/04) di Inggris mencapai lebih dari 133.000 dengan kematian mencapai 18.100.

Mengantar makanan berbuka

Salah satu masjid di kawasan Stanmore, di barat laut London, masjid Hujjat mengubah acara buka bersama mereka dengan cara mengantar makanan ke lebih dari 150 keluarga yang membutuhkan.

Bahan makanan ini berasal dari sumbangan, dan pengolahannya dilakukan oleh restoran di kawasan setempat. Sedangkan pengantaran makanan dilakukan oleh para sukarelawan.

“Menurut saya, situasi sulit ini membuat kita melihat hal-hal terbaik muncul dari banyak orang,” kata Asim Nurmohamed, salah satu pengurus masjid.

“Sudah terkumpul 200 orang relawan dalam 48 jam ini, dan rasanya ini luar biasa,” katanya lagi.

“Biasanya kami menyediakan menu berbuka untuk 1.500 orang di masjid kami sepanjang bulan Ramadan dan banyak orang yang benar-benar mengandalkan makan dari situ”.

Harapannya, mereka bisa menjangkau 200 rumah setiap malam selama Ramadhan, dengan sudah ada 1.000 orang menyatakan minat.

Seperti banyak masjid lainnya, Mesjid Hujjat telah mengadakan ceramah dan kelas daring menjelang Ramadhan dan akan terus melakukan hal ini sepanjang bulan suci bagi kaum Muslim tersebut.

Kegiatan tahunan lain yang biasa dilakukan di Inggris, seperti Tenda Ramadan yang digagas para mahasiswa, juga dialihkan menjadi kegiatan daring. Makanan untuk buka puasa juga diantarkan untuk mereka yang memerlukan.

Kegiatan yang digagas para mahasiswa dan dimulai sejak 2012 ini ditujukan untuk "mengangkat kesadaran dan pengetahuan tentang Islam" dan para undangan termasuk warga non-Muslim.

Buka bersama daring

Kedutaan Besar Republik Indonesia di London juga mengubah kebiasaan buka bersama dan ceramah pada saat Ramadhan.

Biasanya setiap Ramadan KBRI mengadakan buka bersama yang diiringi ceramah dan salat tarawih berjamaah di kantor KBRI di kawasan Westminster, di pusat London.

Namun kali ini KBRI London mengadakan ceramah dan buka puasa virtual atau e-ifthar bekerjasama dengan beberapa organisasi keagamaan.

Selama bulan Ramadhan, KBRI merencanakan akan mengadakan delapan kali ceramah daring dengan menggunakan fasilitas konferensi video.

Belajar dari puasa
Kelompok lain yang juga akan memperluas kegiatan mereka selama Ramadhan adalah Asosiasi Pemuda Muslim Ahmadiyyah (AMYA), yang selama ini telah mengadakan kelas kebugaran dan kegiatan amal. Mereka berencana akan memperluas kegiatan selama Ramadan.

Abdul Lodhi, Direktur amal di AMYA mengatakan umumnya mereka mengadakan acara buka bersama dan ceramah mengenai Islam dan ibadah Ramadan selama bulan suci, tetapi mereka akan menggantinya dengan acara daring.

"Satu hal yang kami rasa bisa membantu di tengah ketidakpastian ini adalah hikmah dari puasa bisa diterapkan dalam situasi karantina seperti ini," kata Lodhi, yang tinggal di Cheshire, Lancashire.

"Keadaan karantina ini bisa dibilang mirip puasa. Ini lebih dari sekadar berlapar-lapar, ada makna lebih ketimbang itu. Kita diminta untuk tidak bicara yang tidak perlu, tidak menggunakan kata-kata kotor, tidak menonton TV kalau tidak perlu.”

"Saya rasa daya tahan merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat saat-saat seperti sekarang."

Ceramah melalui Instagram

Seorang imam yang tinggal di London, Sabah Ahmedi, 26 tahun, mengatakan Ramadan kali ini akan berat bagi kaum Muslim karena tidak bisa beribadah secara berjamaah. Ia sendiri akan menggunakan Instagram untuk kelas-kelas ceramah dan beribadah bersama.

“Ramadan adalah saatnya meningkatkan keimanan dan kedekatan dengan Tuhan dan kita diberi waktu untuk merenung, dan ini adalah saatnya,” katanya.

Namun menurutnya pesan terpenting yang harus disampaikan adalah agar semua orang tinggal di rumah masing-masing dan tidak mencoba mengunjungi saudara atau ke masjid, yang akan ditutup, katanya.

Dr Kiran Rahim mengatakan mengenakan pakaian khusus dibatasi dua jam untuk minum dan ia merasa sedih karena tak bisa puasa.(foto; Kiran Rahim)

Dokter di garis depan Covid-19: "Sedih, saya ingin sekali puasa"

Bagi Dr Kiran Rahim, Ramadhan kali ini baginya adalah menghabiskan waktu di belakang masker yang gerah di ruang rawat intensif untuk para pasien Covid-19.

Biasanya, dokter anak ini akan membawa anak-anaknya ke rumah ibunya untuk berbuka puasa bersama, atau bertemu dengan teman-temannya untuk berbuka bersama di restoran dekat tempat tinggalnya.

Dr Rahim yang bertugas di rumah sakit Homerton di timur laut London tidak akan berpuasa pada bulan Ramadhan ini karena beratnya pekerjaannya di unit perawatan intensif.

"Banyak yang seperti saya memilih untuk tidak puasa karena bekerja di unit perawatan intensif (ITU),” kata Dr Rahim yang tinggal bersama suami dan dua anaknya.

"Tidak mudah bekerja dengan alat pelindung diri. Kami hanya bisa bekerja dua jam setiap kali sebelum harus mencopotnya untuk minum."

Ia mengatakan rekan-rekannya yang tergabung di British Islamic Medical Association telah meminta fatwa dari ulama yang menyatakan bahwa Muslim yang bekerja untuk keperluan vital dan intens seperti itu diizinkan untuk tidak berpuasa.

“Ini melegakan, tapi sekaligus bikin sedih karena saya ingin sekali berpuasa,” katanya.

Maka bagi petugas medis yang berpuasa, berbuka puasa akan dilakukan sendirian di saat rehat dari 12 jam giliran kerja mereka, yang sangat berbeda dari giliran kerja yang biasanya mereka lakukan.

Pembatasan gerak sudah diberlakukan setidaknya sampai tanggal 7 Mei, dan Dr Rahim, 33 tahun, mengatakan ia menduga bahwa Idul Fitri tahun ini juga tidak bisa dirayakan seperti biasanya.

Baca Juga


# Gan | BBC

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS