Riyadh.BM- Sebanyak 11 pangeran termasuk Alwaleed bin Talal dan 4 menteri yang tengah menjabat ditangkap oleh Komite Anti-Korupsi Arab Saudi terkait dugaan keterlibatan dalam kasus korupsi.
Seperti dilansir dari The New York Times, Minggu (5/11), penangkapan yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilakukan Sabtu (4/11) malam.
Selain empat menteri aktif juga ditangkap puluhan mantan menteri lainnya. Pengumuman penangkapan tersebut disampaikan melalui Al Arabiya, jaringan satelit yang penyiarannya disetujui secara resmi oleh pemerintah Saudi. Alwaleed bin Talal termasuk pangeran terkaya di Saudi bahkan dunia.
Penangkapan 4 menteri membuat Raja Salman melakukan reshuffle kabinet. Dua menteri diganti yaitu Menteri Garda Nasional Miteb bin Abdullah digantikan oleh Pangeran Khaled bin Ayyaf serta Menteri Ekonomi Adel Fakieh digantikan oleh Mohammed Al-Tuwaijri. Panglima Angkatan Laut Abdullah Al-Sultan digantikan oleh Fahad Al-Ghofaili.
Penangkapan Alwaleed bin Talal dinilai mengejutkan bagi pihak kerajaan karena posisinya mengendalikan perusahaan investasi Kingdom Holding. Saham-sahamnya tersebar di News Corp, Time Warner, Citigroup, Twitter, Apple, Motorola dan banyak perusahaan kelas dunia lainnya. Selain itu ia juga mengendalikan jaringan televisi satelit yang ditonton di seluruh dunia Arab.
Merujuk pemberitaan media lokal setempat, penangkapan dan 'sapu bersih' para pangeran dan pejabat-pejabat itu di sebut-sebut sebagai langkah Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menguatkan posisinya. Di usia yang masih muda, 32 tahun, Mohammed bin Salman tampak sudah begitu dominan di militer, hubungan asing, ekonomi, dan sosial. Hal tersebut menimbulkan sejumlah ketidakpuasan di kalangan kerajaan.
Ia juga pernah menyampaikan agar industri hiburan dan pariwisata di Arab Saudi bangkit. Dalam konferensi ekonomi di Riyadh, Selasa (24/10) pekan lalu, Pangeran Mohammed secara tegas mengatakan, "Kami kembali ke kami yang sebelumnya, sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang dari seluruh dunia.
"Kami ingin hidup yang normal. Sebuah kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi tradisi keramahan kami," kata Mohammed yang di sebut-sebut sebagai penguasa de facto di Saudi. Pangeran Mohammed juga akan berencana membangun satu kota hiburan seluas 334 kilometer persegi atau separuh provinsi DKI Jakarta itu akan dibangun di pinggir kota Riyadh, kawasan pesisir Laut Merah dan tak jauh dari Mesir dan Jordania.
Dipimpin Mohammed bin Salman, Raja Salman telah membuat Komite Anti-Korupsi Saudi yang baru. "(Tugas Komite Anti-Korupsi antara lain) mengidentifikasi pelanggaran, kejahatan, orang-orang dan entitas yang terlibat dalam kasus-kasus korupsi publik," ujar keputusan Kerajaan saat membentuk komite tersebut.
Penangkapan dilakukan beberapa jam setelah komite tersebut menjalankan tugasnya. Al Arabiya mengatakan, komite antikorupsi memiliki hak untuk menyelidiki, menangkap, melarang melakukan perjalanan, atau membekukan aset siapa pun yang dianggap terlibat korupsi.
Hotel Ritz Carlton di Riyadh dievakuasi pada Sabtu yang diduga sebagai tempat 'penampungan' bangsawan yang ditangkap tersebut.
Pasca penangkapan 11 pangeran dan 4 menteri itu, Pemerintah Arab Saudi menutup bandara untuk penerbangan dengan pesawat atau jet pribadi. Hal itu dilakukan agar tak ada pihak yang baru ditangkap itu melarikan diri.
Dewan Ulama Tertinggi kerajaan Saudi menyampaikan melalui Twitter, pentingnya upaya memberantas korupsi dan sama pentingnya dengan memberantas terorisme.
Kantor berita Reuters menyebutkan, ada 17 nama yang diungkap oleh salah seorang pejabat Saudi. Berikut nama-namanya: Pangeran Alwaleed bin Talal (chairman of Kingdom Holding 4280.SE), Pangeran Miteb bin Abdullah (Menteri Garda Nasional), Pangeran Turki bin Abdullah (mantan Gubernur Provinsi Riyadh), Khalid al-Tuwaijri (mantan ketua Royal Court), Adel Fakeih (Menteri Ekonomi dan Perencanaan), Ibrahim al-Assaf (mantan Menteri Keuangan), Abdullah al-Sultan (Komandan Angkatan Laut Saudi), Bakr bin Laden (Chairman of Saudi Binladin Group), Mohammad al-Tobaishi (mantan Kepala Protokol Royal Court), Amr al-Dabbagh (mantan Gubernur Otoritas Investasi Umum Arab Saudi), Alwaleed al-Ibrahim (pemilik Jaringan Televisi MBC), Khalid al-Mulheim (mantan Direktur Jendral Saudi Arabian Airlines), Saoud al-Daweesh (mantan chief executive Saudi Telecom 7010.SE), Pangeran Turki bin Nasser (mantan kepala Presidensi Meteorologi dan Lingkungan Hidup), Pangeran Fahad bin Abdullah bin Mohammed al Saud (mantan Wakil Menteri Pertahanan), Saleh Kamel (Pengusaha) dan Mohammad al-Amoudi (pengusaha).
Seperti dilansir dari The New York Times, Minggu (5/11), penangkapan yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilakukan Sabtu (4/11) malam.
Selain empat menteri aktif juga ditangkap puluhan mantan menteri lainnya. Pengumuman penangkapan tersebut disampaikan melalui Al Arabiya, jaringan satelit yang penyiarannya disetujui secara resmi oleh pemerintah Saudi. Alwaleed bin Talal termasuk pangeran terkaya di Saudi bahkan dunia.
Penangkapan 4 menteri membuat Raja Salman melakukan reshuffle kabinet. Dua menteri diganti yaitu Menteri Garda Nasional Miteb bin Abdullah digantikan oleh Pangeran Khaled bin Ayyaf serta Menteri Ekonomi Adel Fakieh digantikan oleh Mohammed Al-Tuwaijri. Panglima Angkatan Laut Abdullah Al-Sultan digantikan oleh Fahad Al-Ghofaili.
Penangkapan Alwaleed bin Talal dinilai mengejutkan bagi pihak kerajaan karena posisinya mengendalikan perusahaan investasi Kingdom Holding. Saham-sahamnya tersebar di News Corp, Time Warner, Citigroup, Twitter, Apple, Motorola dan banyak perusahaan kelas dunia lainnya. Selain itu ia juga mengendalikan jaringan televisi satelit yang ditonton di seluruh dunia Arab.
Merujuk pemberitaan media lokal setempat, penangkapan dan 'sapu bersih' para pangeran dan pejabat-pejabat itu di sebut-sebut sebagai langkah Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menguatkan posisinya. Di usia yang masih muda, 32 tahun, Mohammed bin Salman tampak sudah begitu dominan di militer, hubungan asing, ekonomi, dan sosial. Hal tersebut menimbulkan sejumlah ketidakpuasan di kalangan kerajaan.
Ia juga pernah menyampaikan agar industri hiburan dan pariwisata di Arab Saudi bangkit. Dalam konferensi ekonomi di Riyadh, Selasa (24/10) pekan lalu, Pangeran Mohammed secara tegas mengatakan, "Kami kembali ke kami yang sebelumnya, sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi dan orang-orang dari seluruh dunia.
"Kami ingin hidup yang normal. Sebuah kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi tradisi keramahan kami," kata Mohammed yang di sebut-sebut sebagai penguasa de facto di Saudi. Pangeran Mohammed juga akan berencana membangun satu kota hiburan seluas 334 kilometer persegi atau separuh provinsi DKI Jakarta itu akan dibangun di pinggir kota Riyadh, kawasan pesisir Laut Merah dan tak jauh dari Mesir dan Jordania.
Dipimpin Mohammed bin Salman, Raja Salman telah membuat Komite Anti-Korupsi Saudi yang baru. "(Tugas Komite Anti-Korupsi antara lain) mengidentifikasi pelanggaran, kejahatan, orang-orang dan entitas yang terlibat dalam kasus-kasus korupsi publik," ujar keputusan Kerajaan saat membentuk komite tersebut.
Penangkapan dilakukan beberapa jam setelah komite tersebut menjalankan tugasnya. Al Arabiya mengatakan, komite antikorupsi memiliki hak untuk menyelidiki, menangkap, melarang melakukan perjalanan, atau membekukan aset siapa pun yang dianggap terlibat korupsi.
Hotel Ritz Carlton di Riyadh dievakuasi pada Sabtu yang diduga sebagai tempat 'penampungan' bangsawan yang ditangkap tersebut.
Pasca penangkapan 11 pangeran dan 4 menteri itu, Pemerintah Arab Saudi menutup bandara untuk penerbangan dengan pesawat atau jet pribadi. Hal itu dilakukan agar tak ada pihak yang baru ditangkap itu melarikan diri.
Dewan Ulama Tertinggi kerajaan Saudi menyampaikan melalui Twitter, pentingnya upaya memberantas korupsi dan sama pentingnya dengan memberantas terorisme.
Kantor berita Reuters menyebutkan, ada 17 nama yang diungkap oleh salah seorang pejabat Saudi. Berikut nama-namanya: Pangeran Alwaleed bin Talal (chairman of Kingdom Holding 4280.SE), Pangeran Miteb bin Abdullah (Menteri Garda Nasional), Pangeran Turki bin Abdullah (mantan Gubernur Provinsi Riyadh), Khalid al-Tuwaijri (mantan ketua Royal Court), Adel Fakeih (Menteri Ekonomi dan Perencanaan), Ibrahim al-Assaf (mantan Menteri Keuangan), Abdullah al-Sultan (Komandan Angkatan Laut Saudi), Bakr bin Laden (Chairman of Saudi Binladin Group), Mohammad al-Tobaishi (mantan Kepala Protokol Royal Court), Amr al-Dabbagh (mantan Gubernur Otoritas Investasi Umum Arab Saudi), Alwaleed al-Ibrahim (pemilik Jaringan Televisi MBC), Khalid al-Mulheim (mantan Direktur Jendral Saudi Arabian Airlines), Saoud al-Daweesh (mantan chief executive Saudi Telecom 7010.SE), Pangeran Turki bin Nasser (mantan kepala Presidensi Meteorologi dan Lingkungan Hidup), Pangeran Fahad bin Abdullah bin Mohammed al Saud (mantan Wakil Menteri Pertahanan), Saleh Kamel (Pengusaha) dan Mohammad al-Amoudi (pengusaha).
#Gan









No comments:
Post a Comment