Waspadai Demam Lassa, Reservoir Hewan Pengerat Penyebab Kematian - Benang Merah News

Breaking

JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN 'CEGAH PENYEBARAN COVID-19'
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_36.html
COVID-19 DI DUNIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_53.html
COVID-19 DI INDONESIA Klik!
https://www.benangmerahnews.com/p/blog-page_25.html
COVID-19 DI KOTA PADANG Klik!

Monday, August 3, 2020

Waspadai Demam Lassa, Reservoir Hewan Pengerat Penyebab Kematian


Pengantar

Demam Lassa merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus akut. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1969 di kota Lassa, Nigeria. Virus penyebabnya dapat menyebar dari tikus ke manusia dengan berbagai macam cara. Virus juga dapat menyebar dari manusia ke manusia oleh orang yang terinfeksi. 

Demam Lassa sendiri hampir mirip dengan Marburg dan Ebola, yang juga disebabkan oleh virus mematikan yang mengakibatkan infeksi pada tubuh. Keduanya merupakan penyakit yang jarang terjadi, tapi berpotensi menyebabkan angka kematian yang tinggi. Kedua penyakit yang juga disebabkan oleh virus tersebut berasal dari Afrika dan terjadi selama beberapa dekade belakangan ini.


Definisi

Demam Lassa merupakan penyakit zoonosis, yang berarti bahwa manusia terinfeksi dari kontak dengan hewan yang terinfeksi. Host atau reservoir dari virus Lassa adalah hewan dari genus Mastomys, spesies Mastomys natalensis umumnya dikenal sebagai tikus multimammate. Tikus Mastomys yang terinfeksi dengan virus Lassa tidak menjadi sakit, tetapi mereka dapat menularkan virus dalam urin dan tinja mereka.

Virus penyebab penyakit demam berdarah lassa adalah Lassa Virus (LASV)/ Virus Lassa yang merupakan golongan arbovirus dengan genus arenavirus dan family arenaviridae. Virus ini merupakan jenis virus demam berdarah (Viral Hemorrhagic Fever/VHF) pada primata. Virus lassa merupakan virus RNA yang berantai tunggal dan ditemukan sekitar 30 tahun lalu.

Sekitar 80% dari orang yang terinfeksi virus Lassa tidak menimbulkan gejala. 20% kasus atau satu dari lima orang yang terinfeksi menyebabkan penyakit yang parah, di mana virus mempengaruhi beberapa organ tubuh seperti hati, limpa dan ginjal. Virus lassa dapat menginfeksi hampir setiap jaringan dalam tubuh manusia, dimulai dari mukosa, usus, paru-paru dan sistem urin kemudian berkembang ke sistem vaskular.

Tingkat fatalitas kasus keseluruhan adalah 1%. CFR diamati antara pasien dirawat di rumah sakit dengan kasus yang parah Demam Lassa adalah 15%. Pada kasus yang fatal, kematian biasanya terjadi dalam waktu 14 hari sejak timbulnya penyakit .


Masa Inkubasi, Tanda dan Gejala

Masa inkubasi Demam Lassa berkisar 6-21 hari. Timbulnya penyakit tersebut, biasanya gejalanya bertahap, dimulai dengan demam, kelemahan umum, dan malaise. Setelah beberapa hari, timbul sakit kepala, sakit tenggorokan, nyeri otot, nyeri dada, mual, muntah, diare, batuk, dan juga bisa disertai sakit perut. Dalam kasus yang parah dapat terjadi pembengkakan wajah, terdapat cairan dalam rongga paru-paru, pendarahan dari mulut, hidung, saluran vagina atau pencernaan dan tekanan darah rendah. Pada tahap selanjutnya terdapat adanya protein urin, shock, kejang, tremor, disorientasi, dan koma. Ketulian terjadi pada 25% pasien yang bertahan hidup. Dari sebagian kasus-kasus ini, pendengaran kembali normal setelah 1-3 bulan, rambut rontok sementara dan gangguan cara berjalan mungkin terjadi selama pemulihan.

Kematian biasanya terjadi dalam waktu 14 hari dari onset dalam kasus-kasus yang fatal. Penyakit ini sangat parah di akhir kehamilan, dengan kematian ibu dan/atau kematian janin terjadi lebih dari 80% kasus selama trimester ketiga.


Cara Transmisi (Penularan)

Manusia biasanya terinfeksi virus Lassa dari paparan air seni atau kotoran yang terinfeksi tikus Mastomys. Virus Lassa juga dapat menular antar manusia melalui kontak langsung dengan darah, urine, feses, atau sekresi tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi Demam Lassa. Tidak ada bukti secara epidemiologi yang mendukung penyebaran virus Lassa melalui udara antar manusia. Penularan dari orang ke orang terjadi pada pasien yang sedang dalam perawatan kesehatan, di mana virus dapat menyebar melalui peralatan medis yang terkontaminasi, seperti jarum suntik yang digunakan kembali.

Penularan virus Lassa telah dilaporkan terjadi pada semua kelompok umur dan jenis kelamin. Orang yang paling berisiko adalah mereka yang tinggal di daerah pedesaan di mana Mastomys biasanya ditemukan, khususnya pada masyarakat dengan sanitasi yang buruk atau kondisi pemukiman yang padat. Petugas kesehatan berisiko jika merawat pasien Demam Lassa tanpa menggunakan alat pelindung diri.


Kriteria Kasus dan Penegakan Diagnosis

Gejala klinik Demam Lassa sangat bervariasi dan tidak spesifik, sehingga sulit untuk didiagnosis, terutama di awal perjalanan penyakit. Demam Lassa sulit dibedakan dari demam virus lainnya seperti penyakit virus Ebola serta penyakit lain yang menyebabkan demam, termasuk malaria, shigellosis, demam tifoid dan demam kuning.

Diagnosis demam Lassa harus dipertimbangkan pada pasien yang kembali dari Afrika Barat, terutama jika mereka memiliki eksposur di daerah pedesaan atau rumah sakit di negara-negara di mana Demam Lassa diketahui endemik.

Diagnosis pasti membutuhkan pengujian yang hanya tersedia di laboratorium rujukan. Spesimen laboratorium mungkin berbahaya dan harus ditangani dengan sangat hati-hati. Infeksi virus Lassa hanya dapat didiagnosis secara definitif di laboratorium menggunakan tes berikut:
  1.  Reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) assay
  2.  Antibodi enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
  3.  Tes deteksi antigen
  4.  Isolasi virus dengan kultur sel.

Patogenesis dan Epidemiologi (Riwayat Perjalanan Penyakit)

Afrika Barat merupakan daerah endemik Lassa Fever atau Demam Lassa dan pertama kali ditemukan pada tahun 1969 setelah dua perawat misionaris meninggal setelah tertular dengan virus Lassa di Nigeria. Demam Lassa dikenal endemik di Benin (diagnosis untuk pertama kalinya pada November 2014), Ghana (diagnosis untuk pertama kalinya pada bulan Oktober 2011), Guinea, Liberia, Mali (didiagnosis untuk pertama kalinya pada bulan Februari 2009), Nigeria 1959 dan Sierra Leone 1970, tapi mungkin ada di negara-negara Afrika Barat lainnya juga.

Treatment/Penatalaksanaan

Obat antivirus ribavirin tampaknya menjadi pengobatan yang efektif untuk Demam Lassa jika diberikan pada awal perjalanan penyakit klinis. Tidak ada bukti untuk mendukung peran ribavirin sebagai pasca-paparan pengobatan profilaksis untuk Demam Lassa.
Saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah penularan Demam Lassa.


Komunitas Risiko Tinggi

Individu yang berisiko terinfeksi virus Lassa adalah mereka yang tinggal atau mengunjungi daerah endemik, termasuk Sierra Leone, Liberia, Guinea, dan Nigeria dan yang tereksposur tikus multimammate. Risiko pemaparan mungkin juga terjadi di Negara Afrika Barat lainnya dimana Mastomys berada.


Informasi bagi kelompok risti dan petugas kesehatan

Anggota keluarga dan petugas layanan kesehatan harus selalu berhati-hati untuk menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh ketika merawat orang sakit. Gunakan alat pelindung diri untuk mencegah penularan virus Lassa seperti masker, sarung tangan, gaun, dan perisai wajah. Pasien yang diduga Demam Lassa harus dirawat di ruangan khusus “tindakan isolasi,” sedangkan peralatan medis harus rutine disterilkan untuk mencegah kontaminasi.


Informasi bagi petugas laboratorium

Petugas laboratorium juga berisiko, untuk menghindari penularan, sampel yang diambil dari manusia dan hewan untuk penyelidikan infeksi virus Lassa harus ditangani oleh staf terlatih dan diproses di laboratorium yang dilengkapi dengan penanganan biologis maksimum.


Baca Juga


# Gan | Kemenkes

No comments:

Post a Comment

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS